DEFINISI
Persalinan bisa mulai lebih cepat (sebelum minggu ke-37 pada kehamilan) atau bisa mulai terlambat (setelah minggu ke-41 sampai ke-42 pada kehamilan). Akibatnya, janin yang sehat dan hidup kemungkinan dalam bahaya. Persalinan yang dimulai terlalu awal atau terlambat ketika wanita atau janin tersebut mengalami masalah kesehatan atau janin di dalam posisi yang tidak normal.
Tidak lebih dari 10 % wanita melahirkan pada tanggal yang telah ditetapkan (biasanya diperkirakan sekitar 40 minggu pada kehamilan). Sekitar 50% wanita melahirkan dalam waktu 1 minggu (sebelum dan sesudah), dan hampir 90% melahirkan dalam waktu 2 minggu pada tanggal yang telah ditetapkan. Memastikan lamanya kehamilan bisa jadi sulit, karena tanggal yang tepat pada pembuahan seringkali tidak dapat dipastikan. Awal kehamilan, pemeriksaan ultrasonik, yang aman dan tidak menyakitkan, bisa membantu memastikan lamanya kehamilan. Pada pertengahan dan akhir kehamilan, pemeriksaan ultrasonik sedikit dapat dipercaya dalam memastikan lamanya kehamilan.
Pecahnya selaput secara premature : pada sekitar 10% kehamilan normal, selaput berisi cairan mengandung janin pecah sebelum persalinan dimulai. Kontraksi biasanya dimulai dalam waktu 12 sampai 48 jam. Pecahnya selaput umumnya dijelaskan sebagai ‘air ketuban’. Cairan di dalam selaput (cairan ketuban) kemudian mengalir keluar dari vagina. Aliran tersebut bervariasi dari menetes sampai menyembur. Segera sebagimana selaput telah pecah, seorang wanita harus menghubungi dokter atau bidan.
Jika persalinan tidak mulai terjadi dalam waktu 24 sampai 48 jam, resiko infeksi pada rahim dan janin meningkat. Oleh karena itu, seorang dokter atau bidan berijazah biasanya memulai persalinan buatan (induksi), tergantung apakah cukup matang atau tidak janin tersebut untuk dilahirkan. Dokter bisa menganalisa cairan ketuban untuk memastikan jika paru-paru janin cukup matang. Jika tidak, persalinan diinduksi dan bayi dilahirkan. Jika tidak, dokter biasanya tidak menginduksi persalinan.
Suhu tubuh wanita tersebut dan denyut nadi biasanya direkam setidaknya dua kali sehari. Peningkatan pada suhu atau denyut kemungkinan tanda awal infeksi. Jika infeksi terjadi, persalinan diinduksi dengan segera dan bayi dilahirkan. Sangat jarang, jika cairan ketuban berhenti merembes dan kontraksi berhenti, wanita tersebut kemungkinan bisa pulang. Pada beberapa kasus, wanita tersebut harus menemui dokternya setidaknya sekali seminggu.
Persalinan preterm : karena bayi dilahirkan secara premature bisa mengalami masalah kesehatan yang signifikan, dokter berupaya untuk mencegah atau menghentikan persalinan yang dimulai sebelum minggu ke-34 kehamilan. Apa yang menyebabkan persalinan preterm tidak dimengerti dengan baik. Meskipun begitu, gaya hidup sehat dan kunjungan rutin ke dokter atau bidan selama persalinan sangat membantu. Persalinan preterm sulit untuk dihentikan. Jika pendarahan vagina tidak terjadi dan selaput tidak membocorkan cairan ketuban, wanita tersebut dianjurkan untuk beristirahat dan mengurangi kegiatan mereka sebanyak mungkin, terhadap orang-orang yang menetap. Wanita tersebut diberikan cairan dan kemungkinan diberikan obat-obatan yang memperlambat persalinan. Cara-cara ini bisa seringkali menunda persalinan untuk waktu yang singkat.
Obat-obatan yang bisa memperlambat persalinan termasuk magnesium sulfate dan terbutaline. Magnesium sulfate diberikan secara infus menghentikan persalinan pada banyak wanita. Meskipun begitu, jika dosis terlalu tinggi, bisa memperlambat denyut jantung dan pernafasan wanita tersebut. Terbutaline diberikan dengan suntikan di bawah kulit juga bisa digunakan untuk menghentikan persalinan preterm. Meskipun begitu, sebagai efek samping, ini meningkatkan denyut jantung pada wanita, janin, atau keduanya. Kadangkala ritodrine digunakan sebagai pengganti terbutaline.
Jika servik membuka (membesar) melebihi 2 inci (5 cm), persalinan biasanya dilanjutkan sampai bayi dilahirkan. Jika dokter berpikir bahwa melahirkan premature tidak dapat dihindari, seorang wanita kemungkinan diberikan kortikosteroid seperti betametason. Kortikosteroid membantu paru-paru janin dan organ lain matang lebih cepat dan mengurangi resiko setelah lahir, bayi akan mengalami kesulitan pernafasan (sindrom pernafasan bayi baru lahir yang mengganggu).
Kehamilan postterm dan postmaturity : pada kebanyakan kehamilan yang berjalan sedikitnya melebihi 41 sampai 42 minggu, tidak mengalami masalah. Meskipun begitu, masalah-masalah bisa terjadi jika plasenta tidak dapat melanjutkan untuk mengatur lingkungan yang sehat untuk janin. Keadaan ini disebut postmaturity.
Biasanya, tes dimulai pada minggu ke-41 untuk meneliti gerakan janin dan denyut jantung dan jumlah cairan ketuban, yang nyata berkurang pada kehamilan postmature. Denyut pernafasan dan detak jantung bisa dipantau. Dokter bisa memeriksa kesehatan janin dengan pemantau jantung janin elektronik. Biasanya, pada minggu ke-42, persalinan diinduksi, atau bayi dilahirkan dengan operasi sessar.
Persalinan yang kemajuannya terlalu lambat : jika persalinan kemajuannya terlalu lambat, janin kemungkinan terlalu besar untuk bergerak melalui saluran lahir (panggul dan vagina). Melahirkan dengan forceps, vacuum extractor, atau operasi sessar kemungkinan diperlukan. Jika saluran lahir cukup besar untuk janin tetapi persalinan tidak ada kemajuan, wanita tersebut diberikan infus oxytocin untu merangsang rahim untuk berkontraksi lebih kuat. Jika oxytocin tidak berhasil, operasi sessar dilakukan. Jika bayi tersebut siap pada posisi untuk dilahirkan, forceps atau vacuum extractor kemungkinan digunakan sebagai pengganti.
Masalah Waktu Persalinan
Prosedur Persalinan dan Melahirkan
DEFINISI
Induksi pada persalinan adalah awalan buatan pada persalinan. biasanya persalinan diinduksi dengan memberikan wanita tersebut oxytocin, hormon yang membuat rahim berkontraksi lebih sering dan lebih kuat. Oxytocin yang diberikan sama dengan oxytocin yang dihasilkan oleh kelenjar pituitary. Hal ini diberikan melalui infus dengan pompa infus, sehingga jumlah pemberian obat dapat dikendalikan dengan tepat. Kadangkala prostaglandin, yang membantu pembesaran servik, juga diberikan untuk membantu memulai persalinan. Sepanjang induksi dan persalinan, jantung janin dipantau secara elektronik. Mulanya, monitor diletakkan di perut wanita tersebut. setelah selaput pecah, monitor dalam dapat dimasukkan melalui vagina dan ditempelkan ke kepala janin. Jika induksi tidak berhasil, bayi tersebut dilahirkan dengan operasi sessar.
Percepatan persalinan adalah percepatan buatan pada persalinan yang prosesnya tidak efektif atau terlalu lambat. Oxytocin digunakan untuk percepatan persalinan. Persalinan dipercepat ketika seorang wanita mengalami kontraksi yang tidak efektif menggerakkan janin melalui saluran lahir.
Memperlambat persalinan adalah penundaan buatan pada persalinan yang prosesnya terlalu kuat. Sangat jarang, seorang wanita mengalami kontraksi yang terlalu kuat, terlalu dekat bersamaan, atau keduanya. Jika kontraksi disebabkan oleh penggunaan oxytocin, obat tersebut dihentikan segera. Wanita tersebut kemungkinan ditempatkan kembali dan diberikan analgesik. Jika kontraksi terjadi secara spontan, obat yang dapat memperlambat persalinan (seperti terbutaline atau) kemungkinan diberikan untuk menghentikan atau memperlambat kontraksi.
Forceps adalah alat operasi dari metal, seperti penjepit, dengan keliling bulat yang pas mengelilingi kepala bayi. Forceps kadangkala digunakan pada persalinan normal untuk memudahkan melahirkan. Forceps kemungkinan diperlukan ketika janin terganggu atau posisinya tidak normal, ketika wanita tersebut mengalami kesulitan untuk mengejan, atau ketika persalinan lama. (kadangkala dokter lebih suka melakukan operasi sessar). Jika forceps melahirkan dicoba dan tidak berhasil, operasi sessar dilakukan. Jarang terjadi, menggunakan forceps membuat memar wajah bayi atau merobek vagina wanita tersebut. 
Forceps atau vacuum extractor kemungkinan digunakan untuk membantu melahirkan. Forceps ditempatkan di sekeliling kepala bayi. Vacuum extractor menggunakan penghisap untuk ditempelkan ke kepala bayi. Dengan alat manapun, bayi ditarik keluar dengan lembut sebagaimana wanita tersebut mengejan.
Vacuum extractor bisa digunakan sebagai pengganti forceps untuk membantu melahirkan. Vacuum extractor terdiri dari mangkuk kecil yang dibuat dari bahan seperti karet yang dihubungkan ke vacuum. Hal ini dimasukkan ke dalam vagina dan menggunakan hisapan untuk ditempelkan ke kepala bayi. Jarang, vacuum extractor merusak kepala bayi.
Operasi sessar adalah operasi melahirkan bayi dengan sayatan sepanjang perut dan rahim wanita. Dokter melakukan prosedur ini ketika mereka berpikir hal ini lebih aman dibandingkan melahirkan normal untuk wanita tersebut, bayi, atau keduanya. Di Amerika Serikat, sekitar seperempat pada persaalinan dengan operasi sessar. Seorang ahli kandungan, ahli anestesi, perawat, dan kadangkala ahli anak terlibat di dalam prosedur ini. Penggunaan anestesi, obat-obatan infus, antibiotik, dan transfusi darah membantu membuat operasi sessar aman. Dengan berjalan-jalan berkeliling membuat wanita tersebut segera setelah operasi mengurangi resiko emboli paru-paru, dimana gumpalan darah yang terbentuk pada kaki atau panggul mengalir menuju paru-paru dan menghambat arteri di sana. Dibandingkan dengan melahirkan normal, melahirkan dengan operasi sessar menghasilkan lebih banyak nyeri setelahnya, tinggal lebih lama di rumah sakit, dan waktu penyembuhan yang lebih lama.
Untuk operasi sessar, sebuah sayatan dibuat di bagian atas atau bagian bawah rahim. Sayatan di bagian bawah lebih umum dilakukan. Bagian bawah rahim mempunyai lebih sedikit pembuluh darah, sehingga darah yang hilang biasanya sedikit. Juga, penyembuhan luka parut lebih kuat, sehingga jarang untuk membuka lebih lebar sewaktu melahirkan berikutnya. Sayatan bagian bawah kemungkinan horizontal atau vertical. Biasanya, sayatan bagian atas digunakan ketika plasenta menghalangi servik (komplikasi ini disebut placenta previa), ketika janin melintangi saluran lahir secara horizontal, atau ketika janin sangat premature.
Pilihan melahirkan normal atau operasi sessar berulang biasanya ditawarkan untuk wanita yang telah mengalami sayatan di bagian bawah perut. Melahirkan normal berhasil pada sekitar tiga perempat wanita. Meskipun begitu, beberapa wanita harus merencanakan memiliki bayi mereka dalam fasilitas yang dilengkapi untuk melakukan operasi sessar dengan cepat, karena terdapat kemungkian sangat kecil bahwa sayatan dari operasi sessar sebelumnya akan membuka selama persalinan.
Masalah Yang Mempengaruhi Wanita
DEFINISI
Preeclampsia : preeclampsia adalah komplikasi pada kehamilan. Yang meliputi tekanan darah tinggi yang terjadi di dalam kehamilan akhir atau segera setelah melahirkan. Preeclampsia bisa membuat pelepasan prematur pada plasenta dari rahim (abruption plasenta) dan masalah-masalah pada bayi yang baru lahir.
Emboli cairan amniotic : sangat jarang, sejumlah cairan amniotic-cairan yang mengelilingi janin di dalam rahim-masuk ke aliran darah wanita tersebut, biasanya terutama sekali selama persalinan yang sulit. Cairan tersebut mengalir menuju paru-paru wanita tersebut dan bisa menyebabkan penyempitan arteri pada paru-paru. Penyempitan ini bisa mengakibatkan detak jantung yang cepat, irama jantung yang tidak teratur, kolaps, shock, atau bahkan serangan jantung dan kematian. Gumpalan darah yang menyebar luas (pembekuan intravascular tersebar) adalah komplikasi umum, membutuhkan perawatan segera.
Pendarahan kandungan: Setelah bayi dilahirkan, pendarahan berlebihan (wasir postpartum) dari rahim adalah perlu diperhatikan. Biasanya, wanita kehilangan sekitar 0.568 liter darah setelah melahirkan. Darah hilang karena beberapa pembuluh darah terbuka ketika pelepasan plasenta dari rahim. Kontraksi pada rahim membantu menutup pembuluh darah ini sampai pembuluh tersebut bisa disembuhkan.
Kehilangan lebih dari 0.568 liter darah selama atau setelah tahap ketiga pada persalinan (ketika plasenta dilahirkan) dipertimbangkan sebagai hal yang berlebihan. Kehilangan darah yang hebat biasanya terjadi segera setelah melahirkan tetapi bisa terjadi bahkan paling lambat 1 bulan setelah itu.
Pendarahan berlebihan bisa terjadi ketika kontraksi pada rahim setelah melahirkan lemah. Kemudian, pembuluh darah yang terbuka ketika plasenta dilepas terus berdarah. Kontraksi bisa lemah jika rahim telah terlalu meregang-misalnya, oleh cairan amniotic yang terlalu banyak di dalam rahim, oleh beberapa janin, atau oleh janin yang sangat besar. Kontraksi bisa juga lemah ketika potongan plasenta menetap di dalam rahim setelah melahirkan, ketika persalinan terlalu lama atau tidak normal, ketika seorang wanita telah hamil beberapa kali, atau ketika anestesi perileks-otot digunakan selama persalinan dan melahirkan. Pendarahan yang berlebihan bisa terjadi jika vagina atau servik robek atau terpotong selama melahirkan atau kadar darah pada fibrinogen (yang membantu penggumpalan darah) rendah. Pendarahan berlebihan setelah satu kali melahirkan bisa meningkatkan resiko pendarahan berlebihan setelah melahirkan berikutnya.
Sebelum seorang wanita bersalin, dokter mengambil langkah untuk mencegah atau bersiap untuk pendarahan yang berlebihan setelah melahirkan. Misalnya, mereka memastikan apakah wanita tersebut memiliki keadaan yang meningkatkan resiko pendarahan, seperti terlalu banyak cairan amniotic. Jika wanita tersebut memiliki jenis darah yang tidak umum, dokter memastikan persediaan jenis darahnya. Setelah melahirkan plasenta, wanita tersebut dipantau setidaknya 1 jam untuk memastikan bahwa rahim berkontraksi dan untuk memperkirakan pendarahan vagina.
Jika pendarahan hebat terjadi, bagian perut wanita tersebut diurut untuk membantu kontraksi rahim, dan dia diberikan oxytocin secara kontinyu melalui selang infus untuk membantu kontraksi rahim. Jika pendarahan berlanjut, prostaglandin bisa disuntikkan ke dalam otot kandungan untuk membantu kontraksi rahim. Wanita tersebut bisa memerlukan tranfusi darah.
Dokter mencari penyebab pendarahan berlebihan. Rahim kemungkinan diteliti untuk menyimpan bagian-bagian pada plasenta. Pembesaran dan kuret bisa dilakukan untuk mengangkat bagian-bagian ini. Pada prosedur ini, alat yang kecil, tajam (curet) dimasukkan melalui servik (yang biasanya masih terbuka dari melahirkan). Kuret digunakan untuk mengangkat bagian-bagian yang masih tertinggal. Prosedur ini membutuhkan anestesi. Servik dan vagina diteliti untuk segala robekan.
Jika rahim tidak bisa dirangsang untuk kontraksi dan pendarahan berlanjut, arteri yang mensuplai darah ke rahim bisa tertutup. Prosedur tersebut digunakan biasanya tidak memiliki efek sakit, seperti kemandulan atau menstruasi yang tidak normal. Pengangkatan pada rahim (hysterectomy) jarang diperlukan untuk menghentikan pendarahan.
Rahim membalik: Sangat jarang, rahim terbalik, sehingga menonjol lewat servik, ke dalam atau melalui vagina. Rahim terbalik adalah keadaan darurat medis yang harus diobati tepat pada waktunya. Dokter mengembalikan rahim ke posisi normal (membalikkan kembali) dengan tangan. Biasanya, wanita tersebut sembuh sepenuhnya setelah prosedur ini.
Masalah Janin dan Bayi Baru Lahir
DEFINISI
Jika persalinan tidak berjalan dengan normal, janin atau bayi yang baru lahir akan mengalami masalah.
Janin dalam bahaya (fetal distress): fetal disstress adalah komplikasi yang jarang terjadi pada persalinan. Biasanya terjadi ketika janin tidak mendapatkan cukup oksigen. Indikator yang lebih sensitiv pada fetal disstress adalah kelainan pola detak jantung pada janin. Melalui persalinan, detak jantung janin dipantau dengan stetoskop janin-setiap 15 menit selama awal persalinan dan setelah setiap kontraksi selama akhir persalinan. Atau detak jantung janin dipantau secara terus menerus dengan alat pantau detak jantung elektronik. Jika kelainan signifikan pada detak jantung diketahui, hal tersebut biasanya bisa diperbaiki dengan beberapa cara seperti memberikan oksigen kepada ibunya, meningkatkan jumlah cairan yang diberikan secara infus pada ibunya, dan mengembalikan ibunya ke posisi sebelah kirinya. Jika cara ini tidak efektif, bayi tersebut dilahirkan secepatnya dengan forceps, vacuum extractor, atau operasi sessar.
Jika cairan ketuban berwarna hijau setelah selaput runtuh, janin tersebut kemungkinan dalam bahaya (namun biasanya tidak). Pelunturan ini disebabkan kotoran pertama bayi (fetal meconium). Gagal janin kemungkinan berhubungan dengan postmaturity (ketika plasenta rusak pada kehamilan postterm) atau dengan komplikasi pada kehamilan atau persalinan yang mempengaruhi ibunya dan oleh karena itu mempengaruhi bayi juga.
Gangguan pernafasan : jarang terjadi, seorang bayi tidak mulai bernafas ketika lahir, meskipun tidak terdapat masalah sebelum melahirkan. Sehingga bayi tersebut membutuhkan tindakan penyadaran. Seorang ahli dalam menyadarkan bayi dihadirkan sewaktu melahirkan untuk alasan ini.
Posisi dan cara lahir tidak normal bayi : posisi merujuk pada apakah bayi menghadap ke belakang (ke arah punggung wanita, atau telungkup) atau maju (menghadap ke atas). Cara lahir merujuk pada bagian tubuh bayi yang membuat jalan keluar melalui jalan lahir. Kombinasi yang sering terjadi dan teraman adalah kepala terlebih dahulu (disebut vertex atau cara lahir cephalic) dan menghadap ke bawah, dengan wajah dan badan menyudut ke arah kanan atau kiri dan dengan leher bengkok ke depan, dagu masuk, dan lengan dilipat melintasi dada. Jika janin berada pada posisi atau cara keluar yang berbeda, persalinan kemungkinan lebih sulit dan melahirkan secara normal tidak mungkin terjadi. Menjelang akhir kehamilan, janin bergerak ke posisi untuk melahirkan. Normalnya, posisi janin menghadap ke belakang (menghadap bagian belakang wanita) dengan wajah dan tubuh menyudut ke salah satu sisi dan leher dilenturkan, dan cara keluar adalah kepala terlebih dahulu. Posisi yang tidak normal adalah menghadap ke depan, dan cara keluar yang tidak normal termasuk face, brow, breech, dan shoulder 

Ketika janin menghadap ke atas (posisi tidak normal), leher seringkali menegang daripada bengkok, dan kepala membutuhkan lebih banyak ruang untuk melalui jalan lahir. Melahirkan dengan forceps, vacuum extractor, atau operasi sessar kemungkinan diperlukan.
Terdapat beberapa cara keluar tidak normal. Cara keluar face, leher melengkung ke belakang sehingga wajah keluar terlebih dahulu, pada cara keluar brow, leher agak melengkung sehingga alis keluar pertama kali. Biasanya, janin tidak tetap pada cara keluar ini, mereka bisa berubah dengan sendirinya.
Cara keluar breech, dimana pantat keluar terlebih dahulu, terjadi dalam 2 sampai 3% pada melahirkan matang. Ketika melahirkan melalui vagina, bayi yang pantatnya keluar terlebih dahulu lebih mungkin terluka dibandingkan mereka yang kepalanya keluar terlebih dahulu. Beberapa luka bisa terjadi sebelum, selama, atau setelah lahir dan termasuk kematian. Komplikasi sedikit mungkin ketika cara keluar breech terdeteksi sebelum persalinan atau melahirkan.
Kadangkala dokter bisa memutar janin ke cara keluar kepala terlebih dahulu dengan menekan perut wanita tersebut sebelum persalinan dimulai, biasanya pada 37 atau 38 minggu kehamilan. Meskipun begitu, jika persalinan dimulai dan janin pada cara keluar breech, masalah bisa terjadi. Jalan keluar dibuat oleh pantat di jalan lahir bisa tidak cukup lebar untuk kepala (yang melebar) untuk keluar. Sebagai tambahan, ketika kepala mengikuti pantat, hal ini tidak dapat dibentuk untuk menyesuaikan jalan lahir, seperti normalnya.
Oleh karena itu, tubuh bayi tersebut kemungkinan dilahirkan dan kepala bisa dipegang disamping wanita tersebut. akibatnya, tulang belakang atau syaraf lainnya kemungkinan meregang, menyebabkan kerusakan syaraf. Ketika pusar bayi pertama kali terlihat di luar wanita tersebut, tali pusar tertekan antara kepala bayi dan jalan lahir, sehingga sangat sedikit oksigen yang diperoleh bayi. Kerusakan otak membuat kekurangan oksigen adalah lebih sering terjadi pada bayi dengan cara keluar pantat terlebih dahulu dibandingkan mereka yang kepalanya keluar terlebih dahulu. Pada kelahiran pertama, masalah ini bertambah buruk karena jaringan wanita tidak meregang karena melahirkan sebelumnya. Karena bayi bisa saja terluka atau meninggal, melahirkan dengan operasi sessar dianjurkan ketika janin dalam kondisi cara keluar breech.
Kadang kala, janin berbaring horizontal melintangi jalan lahir dengan bahu terlebih dahulu keluar. Operasi sessar dilakukan, setidaknya janin kedua atau kembar. Dalam beberapa kasus, janin bisa diputar untuk dilahirkan secara normal.
Kelahiran ganda : jumlah kembar, kembar tiga, dan kelahiran ganda lainnya telah meningkat selama dua dekade terakhir. Selama kehamilan, jumlah janin bisa dipastikan dengan ultrasonografi.
Membawa lebih dari satu janin terlampau meregangkan rahim, dan rahim yang terlampau meregang cenderung mulai kontraksi sebelum kehamilan mencapai jangka waktu penuh. Akibatnya, bayi biasanya dilahirkan secara prematur dan kecil. Pada kasus yang sama, rahim yang terlampau meregang tidak dapat berkontraksi dengan baik setelah melahirkan, menyebabkan pendarahan pada wanita setelah melahirkan. Karena janin bisa jadi dalam berbagai posisi dan cara keluarnya, melahirkan secara normal bisa jadi rumit. Juga, kontraksi pada rahim setelah melahirkan pada bayi pertama bisa memotong plasenta pada sisa bayi. Akibatnya, bayi tersebut yang keluar setelah bayi pertama lebih mengalami masalah selama melahirkan dan setelahnya.
Untuk alasan ini, dokter bisa memutuskan selanjutnya bagaimana untuk melahirkan bayi kembar : secara normal atau dengan operasi sessar. Kadang kala, bayi kembar yang pertama dilahirkan secara normal, tetapi operasi sessar lebih aman untuk bayi kembar kedua. Untuk kembar tiga atau kelahiran ganda lainnya, dokter biasanya melakukan operasi sessar.
Shoulder dystocia : shoulder dystocia terjadi ketika salah satu bahu janin pada posisi berlawanan dengan tulang pubis wanita tersebut, dan bayi tersebut oleh karenanya tertahan di jalan lahir. Kepala keluar, tetapi tertarik kembali dengan kuat berlawanan dengan pembukaan vagina. Bayi tidak bisa bernafas karena dada tertekan oleh jalan lahir. Akibatnya, kadar oksigen pada darah bayi menurun. Komplikasi ini lebih sering terjadi pada janin yang lebih besar, terutama sekali ketika persalinan sudah sulit atau ketika forceps atau sebuah vacuum extractor telah digunakan karena kepala janin tersebut tidak sepenuhnya turun di panggul.
Ketika komplikasi terjadi, dokter segera mencoba berbagai cara untuk membebaskan bahu sehingga bayi tersebut bisa dilahirkan dengan normal. Pada keadaan ekstrem, jika cara ini tidak berhasil, bayi tersebut bisa didorong kembali ke dalam vagina dan dilahirkan dengan operasi sessar.
Prolapsed umbilical cord : tali pusat mendahului bayi melalui vagina (prolapses) pada sekitar 1 dari 1000 kelahiran. Ketika prolapses umbilical cord terjadi, bisa mengerut sehingga suplai darah janin terpotong. Komplikasi ini kemungkinan nyata (overt) atau tidak (occult).
Prolapse nyata ketika selaput telah runtuh dan tali pusat menonjol ke dalam atau keluar vagina sebelum bayi muncul. Prolapse nyata biasanya terjadi ketika seorang bayi muncul dengan pantat terlebih dahulu (cara keluar breech). Tetapi hal ini bisa terjadi ketika bayi tersebut muncul dengan kepala terlebih dahulu, terutama sekali jika selaput runtuh secara prematur atau janin tersebut tidak turun ke dalam panggul wanita tersebut.
Jika janin tersebut tidak turun, aliran cairan sewaktu selaput runtuh bisa membawa tali pusat tersebut keluar di depan bayi. Jika tali turun, segera akan melahirkan, hampir selalu dengan operasi sessar, diperlukan untuk mencegah suplai darah ke janin terpotong. Hingga operasi dimulai, seorang perawat atau dokter menahan tubuh janin tersebut pada tali pusat sehingga suplai darah tersebut melalui tali yang turun tidak terpotong.
Pada prolapse occult, selaput tetap utuh dan tali berada di depan janin atau terperangkap di depan bahu janin. Biasanya, prolapse occult bisa diidentifikasikan dengan pola tidak normal pada detak jantung bayi. Perubahan posisi wanita tersebut atau menaikkan kepala bayi bisa meringankan tekanan pada tali pusat biasanya memperbaiki masalah. Kadang kala, operasi sessar diperlukan.
Nuchal Cord: tali pusat membungkus sekitar leher janin pada sekitar seperempat kelahiran. Biasanya, bayi tidak dalam bahaya. Sebelum lahir, Nuchal Cord: kadang kala bisa dideteksi dengan ultrasonografi, tetapi tidak diperlukan tindakan. Dokter secara rutrin memeriksa hal itu sampai mereka melahirkan bayinya. Jika mereka merasa hal tersebut, mereka bisa memasukkan tali pusat melewati kepala bayi.
Komplikasi Persalinan
DEFINISI
KETUBAN PECAH SEBELUM WAKTUNYA
Ketuban Pecah Sebelum Waktunya (KPSW) adalah pecahnya selaput berisi cairan ketuban yang terjadi 1 jam atau lebih sebelum terjadinya kontraksi.
Dulu, jika terjadi KPSW selalu dilakukan tindakan untuk segera melahirkan bayi guna mencegah infeksi yang bisa terjadi pada bayi maupun ibunya. Tetapi pendekatan ini sudah tidak perlu dilakukan lagi karena resiko terjadinya infeksi bisa dikurangi dengan mengurangi frekuensi pemeriksaan dalam. 1 kali pemeriksaan dengan bantuan spekulum bisa membantu dokter dalam memastikan pecahnya selaput ketuban, memperkirakan pembukaan serviks (leher rahim) dan mengambil contoh cairan ketubah dari vagina.
Jika hasil analisa cairan ketuban menunjukkan bahwa paru-paru bayi sudah cukup matang, maka dilakukan induksi persalinan (tindakan untuk memulai proses persalinan) dan bayi dilahirkan. Jika paru-paru bayi belum matang, persalinan ditunda sampai paru-paru bayi matang.
Pada 50% kasus, persalinan bisa ditunda hanya dengan melakukan tirah baring dan mendapatkan cairan infus; beberapa kasus lainnya memerlukan obat yang bisa mencegah kontraksi rahim (misalnya magnesium sulfat yang diberikan melalui infus, suntikan atau tablet terbutalin dan kadang diberikan ritodrin melalui infus). Ibu dirawat di rumah sakit dan menjalani tirah baring, tetapi masih diperbolehkan ke kamar mandi. Suhu tubuh dan denyut nadinya diukur 2 kali/hari. Peningkatan suhu tubuh bisa merupakan pertanda terjadinya infeksi. Jika terjadi infeksi, dilakukan induksi persalinan dan bayi dilahirkan.
Jika cakran ketuban tidak keluar lagi dan kontraksi berhenti, ibu diperbolehkan pulang ke rumah, tetapi tetap menjalani tirah baring dan memeriksakan dirinya 1 kali/minggu.
PERSALINAN PREMATUR
Persalinan Prematur adalah persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan mencapai 37 minggu. Biasanya persalinan terjadi pada saat usia kehamilan mencapai 37-42 minggu.
Persalinan prematur bisa merupakan suatu proses normal yang dimulai terlalu dini atau dipicu oleh keadaan tertentu, seperti infeksi rahim atau infeksi cairan ketuban, sebagian besar kasus persalinan prematur penyebabnya tidak diketahui secara pasti.
Faktor resiko terjadinya persalinan prematur:
- Pernah mengalami persalinan prematur pada kehamilan terdahulu
- Kehamilan ganda (kembar 2 atau 3)
- Pernah mengalami aborsi
- Memiliki serviks yang abnormal
- Memiliki rahim yang abnormal
- Menjalani pembedahan perut pada saat hamil
- Menderita infeksi berat pada saat hamil
- Pernah mengalami perdarahan pada trimester kedua atau ketiga
- Berat badan kurang dari 50 kg
- Pernah memakai DES (dietilstilbestrol)
- Merokok sigaret atau makakai kokain
- Tidak memeriksakan kehamilan.
Persalinan prematur bisa menyebabkan kelahiran prematur. Jika dilahirkan terlalu dini, serorang bayi bisa mengalami kelainan. Bisa terjadi penyakit yang serius atau kematian karena bayi belum siap untuk hidup mandiri. Oleh karena itu, dokter akan mencoba menghentikan persalinan prematur.
Pada beberapa kasus, jika diketahui akan terjadi persalinan prematur, kelahiran bayi bisa dicegah atau ditunda. Penundaan ini akan memberikan tambahan waktu bagi bayi untuk tumbuh dan berkembang. Bahkan beberapa haripun bisa menghasilkan bayi yang lebih sehat.
Jika perdarahan sulit dihentikan atau jika selaput ketuban telah pecah, maka sulit untuk menghentikan persalinan prematur. Jika tidak terjadi perdarahan dan selaput ketuban masih ututh, biasanya dianjurkan untuk menjalani tirah baring dan cairan diberikan melalui infus. Tetapi jikapembukaan telah mencapai lebih dari 5 cm, biasanya kontraksi terus terjadi sampai bayi akhirnya lahir.
Magnesium sulfat melalui infus bisa menghentikan kontraksi pada 80% kasus, tetapi memiliki efek samping seperti denyut jantung yang cepat pada ibu, bayi atau keduanya. Bisa juga diberikan suntikan terbutalin. Setelah persalinan prematur berhasil dihentikan, diberikan kortikosteroid (misalnya betametason) untuk membantu membukan paru-paru bayi dan mengurangi resiko gangguan pernafasan pada bayi setelah dia dilahirkan nanti (sindroma gawat pernafasan pada bayi baru lahir).
KEHAMILAN POST-MATUR & POSTMATURITAS
Kehamilan Post-matur adalah persalinan yang berlangsung sampai lebih dari 42 minggu. Postmaturitas adalah suatu sindroma dimana plasenta mulai berhenti berfungsi secara normal pada kehamilan post-matur dan hal ini membahayakan janin.
Menentukan apakah kehamilan telah lewat dari 42 minggu tidak selalu mudah, karena saat terjadinya pembuhan tidak selalu dapat ditentukan secara pasti. Kadang saat pembuahan tidak dapat ditentukan karena siklus menstruasi yang tidak teratur. Pada awal kehamilan bisa dilakukan pemeriksaan USG untuk membantu menentukan usia kehamilan. Pemeriksaan USG berikutnya dilakukan sebelum usia kehamilan mencapai 32 minggu (antara 18-22 minggu) untuk mengukur diameter kepala janin; hal ini bisa membantu memastikan usia kehamilan.
Jika kehamilan berlangsung sampai lebih dari 42 minggu dari hari pertama menstruasi terakhir, dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui tanda-tanda postmaturitas pada ibu dan janin, yaitu penciutan rahim dan berkurangnya gerakan janin. Pemeriksaan bisa dimulai pada usia kehamilan 41 minggu, untuk menilai gerakan dan denyut jangung janin serta jumlah cairan ketuban (yang menurun secara drastis pada kehamilan post-matur).
Untuk memperkuat diagnosis postmaturitas, bisa dilakukan amniosentesis (pengambilan dan analisa cairan ketuban). Salah satu tanda dari postmaturitas adalah air ketuban yang berwarna kehijauan yang berasal dari mekonium (tinja fetus yang pertama); hal ini menunjukkan keadaan gawat janin.
Selama hasil pemeriksaan tidak menunjukkan tanda-tanda postmaturitas, maka kehamilan post-matur masih mungkin dilanjutkan. Tetapi jika hasil pemeriksaan menunjukkan adanya tanda-tanda postmaturitas, maka segera dilakukan induksi persalinan dan bayi dilahirkan. Jika serviks belum dapat dilalui oleh janin, maka dilakukan operasi sesar.
TIDAK ADANYA KEMAJUAN DALAM PERSALINAN
Setiap jam seharusnya serviks membukan minimal selebar 1 cm dan kepala janin seharusnya turun ke dalam rongga panggul minimal sebanyak 1 cm. Jika hal tersebut tidak terjadi, mungkin janin terlalu besar untuk melewati jalan lahir dan perlu dilakukan persalinan dengan bantuan forseps atau operasi sesar. Jika jalan lahir cukup lebar tetapi persalinan tidak maju, maka diberikan oksitosin melalui infus untuk merangsang kontraksi rahim yang lebih kuat. Jika setelah pemberian oksitosin persalinan tidak juga maju, maka dilakukan operasi sesar.
DENYUT JANTUNG YG ABNORMAL
Selama persalinan, denyut jantung janin dimonitor setiap 15 menit dengan stetoskop janin (fetoskop) atau dimonitor terus dengan pemantau denyut jantung elektronik. Pemantauan denyut jantung janin merupakan cara yang paling mudah untuk mengetahui adanya gawat janin.
Jika terdengar denyut jantung yang abnormal, dilakukan tindakan korektif, seperti memberikan oksigen kepada ibu, menambah jumlah cairan infus dan meminta ibu untuk berbaring miring ke kiri. Jika tindakan tersebut tidak berhasil memperbaiki denyut jantung yang abnormal, maka dilakukan persalinan forseps atau operasi sesar.
KELAINAN POSISI JANIN
Yang dimaksud dengan posisi janin di dalam rahim adalah arah yang dihadapi oleh janin, sedangkan letak janin adalah bagian tubuh janin yang terendah. Kombinasi yang paling sering ditemukan dan paling aman adalah menghadap ke punggung ibu dengan letak kepala, dimana leher tertekuk ke depan, dagu menempel di dada dan kedua lengan melipat di dada. Jika janin tidak berada dalam posisi atau letak tersebut, maka persalinan bisa menjadi sulit dan mungkin persalinan tidak dapat dilakukan melalui vagina.
KEMBAR
Kehamilan kembar bisa diketahui pada pemeriksaan USG atau dengan pemantau elektronik (dimana akan terdengar 2 denyut jantung yang berbeda). Kembar menyebabkan rahim sangat teregang dan rahim yang sangat teregang cenderung unuk mulai mengalami kontraksi sebelum kehamilan mencapai usia yang matang. Akibatnya bayi kembar sering dilahirkan secara prematur dan kecil.
Posisi dan letak janin di dalam rahim bisa berlainan, sehingga persalinan bisa menjadi sulit. Kontraksi rahim setelah lahirnya bayi pertama cenderung menyebabkan terlepasnya plasenta dari bayi kedua. Akibatnya, bayi kedua cenderung mengalami masalah selama persalinan dan memiliki resiko mengalami kelainan dan kematian yang lebih tinggi.
Kadang setelah persalinan, rahim yang terlalu teregang tidak dapat berkontraksi dengan baik sehingga ibu bisa mengalami perdarahan.
DISTOSIA BAHU
Distosia Bahu adalah suatu komplikasi yang jarang terjadi, dimana pada letak kepala, salah satu bahu bayi tersangkut pada tulang kemaluan dan tertahan di dalam jalan lahir.
Segera dilakukan berbagai tindakan untuk membebaskan bahu sehingga bayi bisa dilahirkan melalui vagina. Jika tindakan tersebut gagal, kadang bayi dapat didorong kembali ke dalam vagina dan dilahirkan melalui operasi sesar.
PROLAPSUS KORDA UMBILIKALIS
Prolapsus Korda Umbilikalis adalah suatu keadaan dimana korda umbilikal (tali pusar) mendahului bayi, yaitu keluar dari jalan lahir.
Pada keadaan ini, jika bayi mulai memasuki jalan lahir, tali pusar akan tertekan sehingga aliran darah ke bayi terhenti. Prolapsus korda umbilikalis bisa terjadi secara nyata atau tersembunyi.
Pada prolapsus yang nyata, selaput ketuban telah pecah dan tali pusar menonjol ke dalam vagina sebelum bayi turun ke jalan lahir. Prolapsus yang nyata biasanya terjadi jika bayi berada dalam letak bokong (tetapi bisa juga terjadi pada letak kepala), terutama jika selaput telah pecah sebelum waktunya atau jika janin belum turun ke panggul ibu.
Untuk mencegah terjadinya cedera pada janin akibat terhentinya aliran darah ke janin, maka segera dilakukan persalinan, biasanya melalui operasi sesar.
Pada prolapsus tersembunyi, selaput ketuban tetap ututh dan tali pusar berada di depan janin atau terperangkap di depan bahu janin. Biasanya keadaan ini diketahui melalui denyut jantung janin yang abnormal. Prolapsus tersembunyi bisa diatasi dengan cara merubah posisi ibu atau mengangkat kepala janin untuk menghilangkan tekanan pada tali pusar. Kadang perlu dilakukan operasi sesar.
EMBOLI CAIRAN KETUBAN
Emboli Cairan Ketuban adalah penyumbatan arteri pulmoner (arteri paru-paru) ibu oleh cairan ketuban.
Suatu emboli adalah suatu massa dari bahan asing yang terdapat di dalam pembuluh darah. Meskipun sangat jarang terjadi, emboli bisa terbentuk dari cairan ketuban.
Emboli ini sampai ke paru-paru ibu dan menyumbat arteri, penyumbatan ini disebut emboli pulmoner.
Emboli pulmoner bisa menyebabkan denyut jantung yang cepat, irama jantung yang tidak teratur, kolaps, syok atau bahkan henti jantung dan kematian.
PERDARAHAN RAHIM
Perdarahan hebat dari rahim setelah persalinan merupakan masalah yang serius. Biasanya selama persalinan ibu kehilangan darah sebanyak 0,5 liter. Ketika plasenta lepas dari rahim, pembuluh darah rahim terbuka. Kontraksi rahim membantu menutupnya pembuluh darah ini sampai mereka mengalami pemulihan lengkap.
Jika setelah proses persalinan rahim tidak berkontraksi atau jika sejumlah kecil plasenta tertinggal di dalam rahim sehingg rahim tidak dapat berkontraksi, maka darah yang hilang akan lebih banyak. Robekan pada vagina atau serviks juga bisa menyebabkan perdarahan hebat.
PROSEDUR
Jika selama proses persalinan berlangsung terjadi komplikasi, maka diambil beberapa tindkan sepserti induksi persalinan, persalinan dengan bantuan forseps atau ekstraktor vakum atau operasi sesar.
Induksi Persalinan
Induksi Persalinan adalah pencetusan persalinan buatan. Augmentasi persalinan menggunakan teknik dan obat yang sama dengan induksi persalinan, tetapi dilakukan setelah kontraksi dimulai secara spontan.
Biasanya induksi persalinan hanya dilakukan jika ibu memiliki masalah kebidanan atau jika ibu maupun bayinya memiliki masalah medis. Untuk menentukan kematangan janin secara akurat, sebelum dilakukan induksi, bisa dilakukan amniosentesis.
Pada induksi persalinan biasanya digunakan oksitosin, yaitu suatu hormon yang menyebabkan kontraksi rahim menjadi lebih kuat. Hormon ini diberikan melalui infus sehingga jumlah obat yang diberikan dapat diketahui secara pasti. Selama induksi berlangsung, denyut jantung janin dipantau secara ketat dengan menggunakan alat pemantau elektronik. Jika induksi tidak menyebabkan kemajuan dalam persalinan, maka dilakukan operasi sesar.
Pada augmentasi persalinan diberikan oksitosin sehingga kontraksi rahim bisa secara efektif mendorong janin melewati jalan lahir. Tetapi jika persalinan masih dalam fase inisial (dimana serviks belum terlalu membuka dan kontraksi masih tidak teratur), lebih baik augmentasi ditunda dengan membiarkan ibu beristirahat dan berjalan-jalan.
Kadang terjadikontraksi yang terlalu kuat, terlalu sering atau terlalu kuat dan terlalu sering. Keadaan ini disebut kontraksi disfungsional hipertonik dan sulit untuk dikendalikan. Jika hal ini terjadi akibat pemakaian oksitosin, maka pemberian oksitosin segera dihentikan. Diberikan obat pereda nyeri atau terbutalin maupun ritodrin untuk membantu menghentikan maupun memperlambat kontraksi.
Forseps & Ekstraktor Vakum
Forseps adalah alat bedah yang terbuat dari logam, bentuknya menyerupai tang, ujungnya bundar sesuai denga bentuk kepala janin. Ekstraktor Vakum adalah suatu mangkuk kecil yang terbuat dari bahan yang menyerupai karet dan dihubungkan dengan sebuah vakum (ruang hampa udara), yang dimasukkan ke dalam vagina dan ditempelkan pada kepala janin.
Forseps kadang digunakan untuk membantu persalinan atau memandu kepala janin. Forseps perlu digunakan jika janin berada dalam keadaan gawat atau posisinya abnormal atau jika persalinan berlangsung lama (persalinan yang berlangsung lama kadang terjadi jika digunakan anestesi yang menyebabkan ibu tidak dapat mengedan secara adekuat).
Ekstraktor vakum adalah suatu alat yang menerapkan pemompaan pada kepala janin. Dengan alat ini, bayi ditarik keluar secara perlahan.
Pemakaian forseps bisa menyebabkan memar pada wajah bayi atau menyebabkan robekan pada vagina ibu; sedangkan ekstraktor vakum bisa menyebabkan robekan pada kulit kepala janian. Tetapi cedera tersebut jarang terjadi.
Operasi Sesar
Operasi Sesar adalah operasi untuk melahirkan/mengeluarkan bayi dari rahim ibu dengan cara membuat sayatan pada perut dan rahim ibu.
Operasi sesar biasanya dihadiri oleh dokter ahli kebidanan, ahli anestesi, perawat dan ahli neonatologi atau seseorang yang ahli dalam melakukan resusitasi. Segera setelah menjalani operasi sesar, ibu dianjurkan untuk berjalan guna mencegah terjadinya emboli paru (penyumbatan arteri paru oleh bekuan darah yang berasal dari tungkai atau panggul). Rasa nyeri yang timbul setelah operasi sesar lebih hebat dibandingkan dengan nyeri akibat persalinan melalui vagina.
Sayatan bisa dibuat di rahim bagian atas (insisi klasik) atau di rahim bagian bawah (insisi segmen bawah). Insisi klasik digunakan hanya jika plasenta berada dalam posisi yang abnormal (plasenta previa) atau jika janin berada dalam posisi horisontal. Perdarahan yang terjadi lebih banyak karena rahim bagian atas lebih banyak mengandung pembuluh darah dan jaringan yang terbentuk lebih lemah sehingga kemungkinan akan terbuka pada kehamilan berikutnya. Insisi segmen bawah bisa dibuat secara horisontal maupun vertikal, kebanyakan dibuat secara horisontal. Insisi vertikal biasanya dibuat jika janin berada dalam posisi yang abnormal.