Entri Populer

Samarajiwa. Diberdayakan oleh Blogger.

Langkah Menuju Sukses

Kiat Langkah Menuju Sukses

blog motivasi | motivasi kerja
Persisnya lewat buku Pak Tung: “Financial Revolution.“  Di buku hebat itu, Pak Tung memberi contoh kesuksesan Adam Khoo.  Saya kemudian sangat beruntung bisa membeli buku Adam Khoo sendiri : ”Master Your Mind, Design Your Destiny”

Adam Khoo, orang Singapura.  Waktu anak-anak, ia adalah penggemar berat games dan TV.  Sehari, ia bisa berjam-jam di depan TV.  Baik main PS atau nonton TV.

Adam Khoo pun dikenal sebagai anak bodoh.  Ketika kelas empat SD, Ia dikeluarkan dari sekolah.  Ia pun masuk ke SD terburuk di Singapura.  Ketika akan masuk SMP, ia ditolak oleh enam SMP terbaik di sana.  Akhirnya, ia bisa masuk ke SMP terburuk di Singapura.

Di awal SMP, kebiasaan Adam tidak berubah.  Akibatnya, ia mendapat peringkat 10 terburuk.  Bayangkan saudara, menjadi peringkat 10 terburuk di SMP terburuk.  Bagaimana buruknya itu.

Usia 13 tahun, ia mengikuti suatu program dari Ernest & Young.  Dalam program itu, ia belajar apa yang namanya Neuro Linguistic Programme  (NLP), Accelerated Learning, dan sebagainya.

Program ini benar-benar bermanfaat bagi Adam.  Ia mulai mempraktekkan keterampilan barunya.  Apa yang ia lakukan setelah kembali ke sekolah?

Pertama ia menulis tujuannya.  Ia akan lulus dari SMP tersebut dengan nilai A semua.  Ia akan masuk ke Victoria Junior College.  SMU terbaik di Singapura.  Adam kemudian melakukan tindakan gila.  Ia umumkan tujuannya itu di depan kelasnya.  Apa yang terjadi?  Ia ditertawakan seluruh isi kelas.  Termasuk gurunya sendiri.

Bila anda jadi gurunya, anda pun mungkin melakukan hal yang sama.  Bagaimana mungkin seorang yang berada di urutan 10 terburuk di SMP terburuk ingin lulus dengan nilai A semua dan masuk ke SMU terbaik.

Tapi Adam tidak bergeming.  Tertawaan dan cemoohan guru dan teman-temannya ia jadikan sebagai sumber semangat.  Ia pikir, bila ia tidak bisa membuktikan kata-katanya, ia akan lebih ditertawakan lagi.

Karena itu, Adam berusaha keras.  Ia gunakan semua cara belajar hebat yang ia dapat dari program Ernest &  Young.  Hasilnya luar biasa.  Adam mulai bisa menjawab pertanyaan di kelas.  Meski ia tetap ditertawakan karena membuat catatan pelajaran dengan cara yang beda dan aneh.  Ia gunakan peta pikiran yang penuh dengan gambar dan simbol untuk mencatat.

Akhirnya keras keras dan tekad baja Adam membuahkan hasil.  Ia lulus dari SMP itu dengan nilai A semua.  Ia berhasil masuk ke Victoria Junior College.  Di SMU terbaik ini pun, Adam tetap menjadi yang terbaik.  Ia lulus dari Victoria Junior College dengan nilai A semua dan sebagai lulusan terbaik.

Adam pun masuk ke National University of Singapore (NUS).  Universitas terbaik di Singapura.  Di NUS, ia berhasil masuk ke NUS Development Program.  Inilah program bagi mahasiswa Top One Percent.  Mahasiswa dengan prestasi akademis yang sempurna.  Program bagi para jenius.  Dari NUS, Adam lulus juga sebagai lulusan terbaik.

Itulah kesuksesan Adam di dunia akademisnya.  Bagaimana dengan dunia bisnis?  Prestasi Adam di dunia bisnis ditandai pada saat Adam berusia 26 tahun.  Ia telah memiliki empat bisnis dengan total nilai omset per tahun US$ 20 juta.

Kisah bisnis Adam dimulai ketika ia berusia 15 tahun.  Ia berbisnis music box.  Bisnis berikutnya adalah bisnis training dan seminar.  Pada usia 22 tahun, Adam Khoo adalah trainer tingkat nasional di Singapura.  Klien-kliennya adalah para manager dan top manager perusahaan-perusahaan di Singapura.  Bayarannya mencapai US$ 10.000 per jam.

Nah, sekarang mari kita merenung.  Apa sebenarnya yang terjadi dengan Adam Khoo.  Bagaimana seorang anak yang dicap bodoh, hobinya nonton TV dan main games bisa meraih sukses seperti itu?  Sukses yang mungkin sekali tidak diraih oleh teman-teman seangkatannya.  Teman-teman yang di SD-nya pintar?

Saya mencatat, ada tiga hal besar yang menjadi kunci sukses Adam Khoo.  Tiga kunci sukses ini pun yang menhantarkan siapapun meraih sukses.  Nah, sebutlah orang sukses yang anda kenal.  Dan perhatikan, bagaimana kondisi tiga hal berikut ini pada diri orang sukses itu:

1. Tujuan yang Jelas
2. Keyakinan yang Benar dan Kuat
3. Aksi yang tepat

Mari kita bahas satu per satu

1. Tujuan yang Jelas

Tujuan Adam jelas.  Ia ingin mendapat nilai A untuk semua mata pelajarannya.  Ia pun sangat jelas menginginkan masuk ke Vistoria Junior College dan National University of Singpore.  Ketika berbisnis, Adam pun membuat tujuan yang jelas.  Ia menetapkan berapa penghasilan yang ingin ia peroleh.

Tujuan yang jelas mempunyai kekuatan yang luar biasa.  Dengan tujuan yang jelas, orang ‘bodoh’ lainnya, Thomas Alva Edison berhasil menemukan bola lampu dan mempatenkan 1000 lebih inovasi.  Tujuan itu lah yang membuat Edison bisa bertahan pada setiap kegagalan yang terjadi.  Ia gagal dalam mencoba 10.000 jenis logam untuk bola lampunya.  Bukannya menyerah, Edison justru mengatakan :”Saya tidak gagal 10.000 kali.  Saya telah sukses 10.000 kali untuk mengetahui jenis logam yang tidak berfungsi.

Saya yakin anda ingin sukses.  Langkah pertama menuju kesana adalah TETAPKAN dan TULISKAN TUJUAN ANDA.  Buat tujuan yang jelas.  Misalnya pendapatan.  Jangan buat tujuan :  “Saya ingin mempunyai pendapatan sebesar-besarnya”  kenapa begitu?  Karena tujuan di atas tidak jelas.  Untuk merubahnya menjadi jelas, anda cukup mengganti sebesar-besarnya dengan angka yang anda kehendaki.  Misalnya Rp. 100 juta per bulan.  Jadi tulisan tujuan anda akan menjadi: “Saya ingin mempunyai pendapatan Rp. 100 juta per bulan.”

Jangan juga gunakan kata “tidak”.  Jangan membuat tujuan : “Saya tidak mau miskin lagi”  tujuan ini, meski benar, tapi menggunakan kata-kata yang negatif.  Jadi aroomanya juga negatif.  Dan sering kali apa yang tidak diinginkan itu justru benar-benar terjadi.  Kalau anda bila tidak mau miskin, mungkin anda akan tetap miskin.  kenapa begitu?  Karena otak anda hanya merekam kata miskin itu.
Contoh mudah begini.  Sekarang, saya harap anda bisa membaca kalimat di bawah ini dan melakukannya:

“JANGAN BAYANGKAN SEEKOR MONYET YANG SEDANG NAIK SEPEDA”

Apa yang terjadi?  Apakah anda justru membayangkan monyet yang sedang naik sepeda?  Padahal tulisan di atas justru melarangnya.
Hal sama terjadi dengan peringatan : “Jangan Membuang Sampah di Sini“.  Apa yang terjadi di areal dengan tanda peringatan itu?  Banyak sampahnya, pasti.

Supaya lebih jelas, buat juga tujuan anda dengan batasan waktu tertentu.  Misalnya: “Saya ingin mempunyai pendapatan Rp. 100 juta dalam enam bulan ke depan.”

Tujuan yang tajam seperti ini sangat berguna.  Apa gunanya?  Ia akan memaksa pikiran anda untuk benar-benar memikirkan cara yang efektif untuk mencapainya.  Artinya anda berpikir lebih keras lagi.  Pikiran yang lebih keras akan memaksa tindakan yang lebih keras juga.  Tindakan yang yang lebih keras akan mendatangkan hasil yang lebih baik juga.

Misalnya sekarang, ketika anda baca buku ini.  Katakanlah anda membacanya di rumah.  Nah, sekarang praktekkan apa yang tertulis di bawah ini:

ANDA HARUS LONCAT DAN MENYENTUH PLAFON.

Apa yang anda pikir?  Kemungkinan besar anda akan berpikir: Tidak mungkin saya bisa loncat dan menyentuh plafon di atas itu.  Oke.  Tidak apa-apa.

Sekarang, praktekkan lagi apa yang tertulis di bawah ini:

“ANDA HARUS LONCAT DAN MENYENTUH PLAFON.  KALAU TIDAK BISA, ANDA AKAN DITEMBAK MATI.”

Bila benar-benar sebuah pistol menempel di pelipis anda dan siap ditembakkan, apa yang akan anda pikirkan?  Kemungkinan besar anda akan berpikir jauh lebih keras dari kasus yang pertama tadi.

Anda tidak ingin kehilangan nyawa anda.  Karena itu anda berpikir lebih keras.  Setelah itu anda mungkin berpikir :”Oh, saya taruh kursi ini di meja.  Saya naik ke atas kursi.  Setelah itu saya loncat.  Pasti bisa menyentuh plafon.”
Nah, anda dapat jawabannya.  Itu karena anda berpikir lebih keras.  Meski sebabnya bukanlah sesuatu yang anda inginkan.  Bahkan itu adalah sesuatu yang menakutkan.

Itulah hebatnya tujuan yang jelas.  Ia bisa menggerakkan seseorang.  Ia memotivasi  orang.  Motivasi penting.  Tanpa motivasi, manusia akan seperti zombie.  Mayat berjalan.

Tujuan itu ada dua.  Pertama, mendapat kesenangan.   Kedua, menghindari derita.  Survei membuktikan bahwa tujuan yang kedua (menghindari derita) jauh lebih kuat dari tujuan yang pertama (mendapat kesenangan).

Contoh mudahnya begini.  Mana yang lebih berpengaruh pada anda?  Mendapat uang Rp. 10 juta?  Atau kehilangan uang Rp. 10 juta?  Saya yakin sekali, anda akan lebih terpengaruh oleh kehilangan uang Rp. 10 juta itu.

Itulah sebabnya, banyak orang kaya berasal dari orang miskin.  Mereka telah merasakan sakitnya miskin.  Mereka tidak mau terus sakit.  Itu sebabnya mereka berjuang habis-habisan keluar dari kemiskinan.

Tapi, banyak juga orang miskin yang ‘betah’ dalam kemiskinan.  Sampai akhirnya mereka meninggal dalam keadaan miskin.  Rasa sakit karena miskin itu tidak cukup kuat untuk membuat mereka berjuang habis-habisan. Mereka telah belajar untuk ‘menikmati’ rasa sakit karena miskin.

2. Keyakinan yang Benar dan Kuat

Adam Khoo sukses salah satunya karena ia merubah keyakinannya.  Ketika ia dicap bodoh, ia yakin bahwa ia bodoh.  Ia pun melakukan hal-hal bodoh.  Terlalu banyak nonton TV dan main games.

Tapi hasil pelatihannya menunjukkan bahwa keyakinan itu SALAH BESAR.  Ia pun mulai membangun keyakinan yang BENAR BESAR.

Keyakinan yang benar itu adalah bahwa ia justru orang yang sangat cerdas. Ia pun meninggalkan tindakan bodohnya.  Ia melakukan hal yang benar.  Hasilnya luar biasa.  Adam bisa merubah peringkatnya.  Dari peringkat 10 terburuk jadi terbaik.

Itulah hebatnya keyakinan.  Itu pula sebabnya mengapa semua orang sukses mempunyai keyakinan seperti Adam Khoo.  Keyakinan yang benar dan kuat.

Semua orang bisa sukses adalah keyakinan yang benar. Sukses tidak ditentukan oleh jenis kelamin, warna kulit, pendidikan, usia, agama, ras, suku, orang tua, bangsa, lokasi, dan sebagainya.  Sukses hanya ditentukan oleh tiga hal besar.  Tiga hal yang sedang kita bahas ini.  Tujuan, keyakinan, aksi.

Karena itu, mulai sekarang, bangunlah keyakinan yang benar.  Apa pun, siapa pun, bagaimana pun situasi dan kondisi anda.  Anda bisa sukses.  Saya malah yakin, setiap anda ditakdirkan sukses.

Keyakinan juga harus kuat.  Keyakinan salah tapi kuat akan mengalahkan keyakinan benar tapi lemah.  Misalnya anda yakin bahwa anda bisa sukses.  Tapi orang-orang sekeliling anda mengatakan sebaliknya.

Nah, mana yang lebih kuat pengaruhnya?  Keyakinan benar anda atau  keyakinan salah orang-orang di sekeliling anda?  Bila anda tetap bertahan pada keyakinan anda, berarti keyakinan anda kuat.  Bila anda mengikuti orang-orang di sekeliling anda, berarti keyakinan anda yang benar itu ternyata lemah.

Ada satu hal yang harus saya peringatkan berkaitan dengan keyakinan, yaitu:

Jangan Memaksakan Keyakinan Anda Pada Orang Lain Yang Berkeyakinan Berbeda.

Jadi, anda hanya mengungkapkan keyakinan anda sendiri.  Alasan-alasan keyakinan anda. Dan anda selalu siap mendengarkan keyakinan orang lain yang beda itu.  Jadikan perbedaan keyakinan itu sebagai berkah.

Jangan meributkan perbedaan keyakinan itu.  Lebih baik anda mencari persamaan dengan orang lain.  Pasti lebih banyak manfaatnya.  Baik bagi anda maupun orang lain.  Misalnya beda keyakinan. Tapi tujuan sama.  Anda tinggal ucapkan: “Sampai jumpa di tujuan kita, ya.“

3. Aksi yang tepat

Tujuan yang jelas, keyakinan yang benar dan kuat memerlukan aksi yang tepat.  Tujuan yang jelas tanpa aksi yang tepat percuma saja.  Sang tujuan pasti tidak tercapai.

Misalnya anda menetapkan tujuan: “Mendapat pendapatan Rp. 10 juta per bulan“.  Tapi setiap hari anda hanya nonton TV.  Pasti tujuan jelas anda itu tidak akan tercapai.

Demikian juga dengan keyakinan yang benar dan kuat.  Tanpa aksi, keyakinan itu tidak akan membuat anda mencapai tujuan.  Jadi, anda benar-benar membutuhkan aksi untuk mencapai tujuan.

Misalnya anda lapar.  Tujuan anda adalah menjadi kenyang. Anda yakin di lemari makan ada makanan.  Anda juga yakin anda bisa mengambil dan memakannya.  Tapi anda tidak bergerak.  Apakah anda akan kenyang?  Pasti tidak.

Jadi, apakah aksi lebih penting dari tujuan dan keyakinan?  Jelas tidak.  Tanpa tujuan, aksi anda tidak akan menghasilkan apa-apa.  Anda akan seperti mayat berjalan tanpa tujuan.  Tanpa keyakinan, anda pasti diliputi keraguan dan ketakutan.  Keraguan dan ketakutan justru membuat anda tidak bertindak sama sekali.

Aksi yang tepat ada tiga.  Pertama, belajar.   Kedua, praktek apa yang telah dipelajari.  Ketiga, evaluasi.
Misalnya anda ingin menjadi pebisnis sukses dengan penghasilan Rp. 100 juta per bulan.  Maka anda harus belajar.  Apa yang anda pelajari?  Anda harus belajar apa-apa saja yang anda perlukan untuk jadi pebisnis sukses.  Anda harus belajar tentang ide bisnis, marketing, produk, komunikasi dengan mitra bisnis dan sebagainya.

Setelah belajar pada tahap tertentu, langsung praktekkan.  Dengan praktek, anda akan tahu, apakah hasil belajar anda telah cukup atau tidak.  Bila cukup, maka anda akan mencapai tujuan anda.  Bila ini yang terjadi, anda harus membuat tujuan baru.  Dan belajar lagi.

Bila belum cukup – berarti tujuan anda belum tercapai – maka anda harus evaluasi diri.  Apa yang masih kurang itu?  Bila sudah tahu, anda harus belajar lagi.  Begitu terus sampai tujuan anda tercapai.  Itulah aksi yang tepat.

Bagaimana anda bisa belajar dengan lebih baik?  Ada satu rumus yang bagus.  Belajar lah dari orang-orang yang sudah sukses.

Contoh sederhana bila anda ingin naik  ke puncak gunung untuk pertama kalinya.  Mana yang lebih baik?  Anda naik bersama teman-teman yang belum pernah naik gunung juga?  Atau naik gunung bersama orang yang sudah pernah naik gunung sampai ke puncaknya?    Pasti yang disebut terakhir lebih baik.

Karena itu belajar lah dari orang yang telah sukses.  Ingin jadi artis sukses, belajar dari artis sukses.  Ingin jadi pebisnis sukses, belajar dari pebisnis sukses.  Kemungkinan suksesnya pasti jauh lebih besar.  Selamat beraksi.  Belajar.  Praktekkan.  Evaluasi.
sumber: blog motivasi.

Baco Salengkapnyo...

Cerita cinta remaja : Cinta Itu sabar

Cerita Cinta remaja : Cinta Itu sabar

Cimotivator.blogspot.com_Danil, Erlangga, Nicki, febri ato siapapun nama mereka, uda di tolak mentah-mentah sama Amara, Amara Cuma bisa nyengir dan ngusir mereka jauh-jauh dari depan mukanya. Tanpa basa-basi lagi Amara langsung bilang “Sorry gue ga suka sama Lo!”

Harta, popularitas atau apapun itu gak lantas buat Amara nerima cowok-cowok kurang kerjaan itu, meskipun Amara jutek dan rada galak tapi cowok-cowok kurang kerjaan itu gak pernah kehabisan ide buat bikin hati Amara kelepek-kelepek.

Hari senin seusai upacara bendera tiba-tiba Amara pingsan. Kontan cowok-cowok kurang kerjaan itu rebutan nolongin Amara. Entah itu beneran nolong atau Cuma sekedar cari perhatian aja, gak ada yang bisa dipercaya. Tapi ada satu cowok yang dengan sigap bawa Amara ke UKS.

“Amara….Lo ga kenapa-napa kan? Lo bikin gue khawatir!” Rintih Nadin, sahabat dekat Amara saat Amara tersadar.

“Huusstt, gue cuma belum sarapan, don’t cry baby!” seru Amara nenangin Nadin yang terisak-isak. “Ngomong-ngomong, siapa yang ngangkut gue ke sini? Jangan bilang salah satu dari cowok-cowok kurang kerjaan itu yang ngangkut gue!”

“Tegar yang gendong Lo kesini. Lo mau dibeliin makan apa? Gue beliin ya?”


“O, Tegar, sampein makasi ya Nad. Ga usah Nad, gue ga mau repotin Lo.”

Sebenernya Amara seneng banget, ternyata yang gendong dia ke UKS Tegar, cowok yang selama ini dia cintai. Tapi kalo inget kenyataannya Tegar pacaran sama Nadin, Amara Cuma bisa nahan perasaan bahagianya itu.

“Amara, Lo ngelamunin apa?” Sahut Nadin membuyarkan lamunan Amara.

“Tegar.” Seru Amara spontan, tanpa sadar Amara udah bikin Nadin kebingungan. “Maksud gue, Tegar hebat bisa ngangkut badan gue yang segini gedenya. Hahaha” Tapi lelucon Amara gak bikin Nadin berhenti membuat Lipatan ombak di keningnya.

“Ra, Lo gak suka sama Tegar kan?” Nadin mulai serius dan membuat Amara salah tingkah.

“Gak mungkin lah gue suka sama Cowok Lo! Ngarang! “ Kilah Amara.

“Lo yakin Ra? Lo sedikit pun gak punya perasaan apa-apa sama Tegar?”

“Come on Nad, gak mungkin gue suka sama cowok Lo! Lo sahabat terbaik gue, ayolah….jangan pernah bikin pertanyaan yang gak masuk akal lagi, ok honey!”

Kejadian di UKS pagi ini bikin Amara shock, apalagi setelah Nadin nanyain perasaan Amara pada Tegar. Amara menyesal udah bohongin Nadin dan perasaannya sendiri. Sepanjang jam sekolah berlangsung Nadin masih menampakan wajah kusutnya. Amara gak bisa berbuat apa-apa selain diam dan berpura-pura gak menyadari keadaan sahabatnya itu. Amara takut jika Nadin menyadari perasaan yang ia punya pada Tegar. Bakal kaya gimana persahabatan mereka kalau Nadin tahu Amara sangat mencintai Tegar.

Seusai sekolah, saat Amara berjalan kaki menuju rumahnya, tiba-tiba Tegar berdiri dan berjalan mengiringi Amara. Aliran darah Amara mengalir begitu deras, begitu juga dengan detak jantungnya, tubuhnya dibanjiri keringat dingin dan terasa begitu tak berdaya.

“Lo masih sakit Ra?” Tegar menempelkan kelima jari tangannya pada kening Amara dan membuat Amara semakin lemah tak berdaya.

“Eng,,, engga, Cuma capek aja kali.”

“Ko bisa sich cewek seangkuh Lo pingsan?”

“Angkuh? Jadi Lo nganggap gue angkuh?”

“Yup! Dengan semua sikap Lo ke cowok-cowok yang udah Lo tolak itu. Menurut gue sich Lo angkuh Ra!”

“Gue gak angkuh! Gue Cuma gak bisa terima mereka! Gue, gue suka…. Sama… seseorang… “ Seru Amara gugup.

“Siapa Ra?” pertanyaan itu membuat Amara tersentak dan berfikir seratus kali lebih cepat untuk mengarang alibi.

“Itu,,, dia,,, Lo gak bakal kenal dia ko!”

“Berarti bukan anak sekolahan kita dong! Tapi gue saranin Lo jangan terlalu jutek sama mereka Ra! Tolak mereka dengan cara baik-baik ok!”

“Yes, ok.”. gumam Amara.

Hari berikutnya di sekolah, Amara berusaha menjalankan saran dari Tegar. Bahkan setiap rayuan dari cowok-cowok kurang kerjaan itu ia ladeni. Mungkin perubahan Amara buat cowok-cowok kurang kerjaan itu suatu hal yang luar biasa. Tapi enggak buat Nadin, Nadin merasa Mual melihat tingkah Amara yang seperti gak ada harga dirinya itu.

“Are you fine Amara?” Seru Nadin sambil membubarkan cowok-cowok kurang kerjaan yang mengelilingi meja tempat ia dan Amara duduk.

“Tentu” Singkat Amara. “Nick nanti sore jadi ya temenin gue ke Toko Buku!” Teriak Amara sambil melambaikan tangan kanannya pada cowok berambut ikal bernama Nicki.

“Helloooo…. Amara Lo serius mau jalan sama Nicki? Ra Lo kesambet setan apa?” Seru Nadin sambil menepuk-nepuk pipi Amara.

“Doi cakep! Tajir! Kurang apa coba?” jelas Amara. “Apalagi Nicki mobilnya keren!” Lanjutnya.

Penjelasan Amara Cuma bikin Nadin tambah mual dan muak pada Amara. Disatu sisi Amara pengen ngilangin kecurigaan Nadin terhadap perasaannya pada Tegar, tapi Amara merasa sangat bersalah udah bohongin Nadin. Amara dan Nadin bersahabat sejak SMP, perbedaan sifat yang mereka miliki bikin mereka saling melengkapi satu sama lain. Amara yang jutek dan galak bisa melindungi Nadin yang manja dan gampang nangis.

Lagi-lagi Tegar udah ada di samping Amara, mereka jalan bersama, karena rumah mereka satu arah.

“Lo kenapa Ra? Tadi Nadin nangis.” Tegar memulai pembicaraan.

“Lo ko jalan kaki terus Gar, kaya hantu lagi tiba-tiba nongol gitu aja!” Seru Amara mengalihkan pembicaraan.

“Lo kenapa udah bikin Nadin nangis?” Kata Tegar lebih galak dan serius.

“Gue gak bikin Nadin nangis ko, emang nangis kenapa?”

“Lo sahabat macam apa sich Ra! Nadin gak suka sama sikap Lo hari ini! Harusnya Lo nyadar Ra!” Jelas Tegar dengan nada tinggi “Lo harusnya bisa jaga perasaan Nadin! Jangan bikin dia nangis!” Sambung Tegar dengan nada yang lebih tinggi dari sebelumnya.

Amara menghentikan langkahnya dan menatap mata Tegar dalam-dalam, tanpa sadar butiran air mata udah membajiri pipi Amara. Dalam hati Amara berfikir betapa Tegar mencintai Nadin, sampai Tegar membentak Amara seperti itu, lalu bagaimana dengan rasa cinta yang Amara miliki buat Tegar. Dalam benaknya Amara merasa gak punya kesempatan buat memiliki Tegar, perasaan yang dia miliki buat Tegar gak mungkin terbalas.

“Lo ko nangis Ra?” Tanya Tegar lembut.

“Sumpah. Gue. Benci sama Lo! Gue benci sama Lo! Benciiiii!!!” Amara berlari meninggalkan Tegar dengan hati yang berkeping. Tidak ada gunanya lagi meneruskan perasaan cintanya pada Tegar, karena Amara sadar bahwa Tegar sangat mencintai Nadin, sahabatnya yang manja itu. Bukan hanya itu, Amara sakit hati karena cowok yang sangat ia cintai tega membentaknya.

Pagi-pagi di sekolah, Nadin menghampiri Amara dengan mata yang berkaca-kaca.

“Ra, Lo kenapa? Lo kenapa berubah? Lo kenapa jadi gini Ra?” Seru Nadin pada sahabatnya itu. Tapi Amara sedikitpun gak menghiraukan keberadaan Nadin. “Tegar bilang Lo kemaren nangis? Lo kenapa gak cerita sama gue Ra?” Sambung Nadin.

“Bukan urusan Lo!” Bentak Amara.

“Lo marah sama gue? Gue punya salah apa sama Lo Ra?” Tangis Nadin lebih menjadi. “Cowok yang Lo suka bukan Tegar kan Ra?” Sambung Nadin.

“Heh Nad! Ini bukan urusan Lo! Bilang juga sama cowok Lo, jangan pernah bentak orang lain yang gak tau apa-apa!” Jelas Amara yang langsung menyeret tasnya keluar kelas.

“Amara, gue minta maaf! Maafin Tegar juga!”

“Gue, Benci Lo berdua! Lo, Tegar! Gue benci kalian!” Teriak Amara di ambang pintu kelasnya.

Nadin semakin terpukul dengan ucapan Amara, kata BENCI yang terlontar dari mulut Amara udah tercerna dan mengalir ke seluruh tubuh dan otaknya. Sahabat terdekatnya dengan mudah mengatakan kata Benci padanya, Nadin gak bisa menguasai kesedihan yang ia rasakan, hingga pada akhirnya Nadin pingsan.

Di lain tempat, Amara hanya bisa menangis. Membayangkan betapa Tegar sangat mencintai Nadin, begitu memperhatikan Nadin, sementara sikap Tegar kemarin membuatnya sakit hati. Dilain hati Amara merasa bersalah pada Nadin, ia merasa sangat mementingkan perasaannya sendiri, jika saja Nadin tau dirinya mencintai Tegar, Nadin pasti akan sangat terluka. Amara menimbang-nimbang perasaannya, perasaan sayangnya pada Nadin, perasaan cintanya pada Tegar. Ia mencoba mengontrol emosinya, menata langkah mana yang harus diambilny

Hari berikutnya di sekolah, Tegar mendatangi Amara saat kelas masih sepi. Amara menyadari kedatangan Tegar, tapi pandangan Amara tetap tertuju pada layar ponsel yang ia genggam.

“Kita perlu bicara Ra!” Ungkap Tegar menarik lengan Amara.

“Kemaren gue bikin cewek Lo nangis! Lo kesini mau bentak gue lagi? Hah?”

“Bukan itu masalahnya Ra!” jelas Tegar. Amara Cuma menatap wajah Tegar dengan sinis dan penuh emosi, mungkin buat saat ini Amara melupakan rasa cintanya pada Tegar.

“Gue minta Lo pergi dari hadapan gue! Sekarang!” Bentak Amara.

“Nadin sakit Ra! Lo harus liat dia! Dia butuh Lo!” Seru Tegar meninggalkan kelas Amara.

Nadin sakit, batin Amara terus terusik oleh dua kata itu, Amara merasa bersalah, dia gak pernah bertengkar sehebat ini dengan Nadin, apalagi sampai Nadin jatuh sakit, kali ini Amara sudah keterlaluan. Sepulang sekolah Amara bertekad untuk meminta maaf pada Nadin, sekalian menengok cewek manja yang masih ia anggap sebagai sahabat itu.

Tanpa canggung lagi Amara langsung menaiki anak tangga menuju kamar Nadin, langkah Amara terhenti saat mendengar isak tangis dari dalam kamar Nadin. Samar-samar Amara mendengar percakapan Nadin dengan seseorang di balik pintu kamar Nadin, dan orang itu adalah Tegar.

“Sampai kapanpun, aku bakal selalu sayang sama kamu Nad, aku gak peduli seberapa banyak rintangannya, aku bakal selalu cinta sama kamu.” Seru Tegar.

“Jangan! Aku gak mau nyakitin Amara, aku gak mau persahabatan aku sama Amara berantakan. Aku yakin, kalo Amara suka sama kamu Gar. Kamu bisa cari cewek lain yang lebih baik dari aku.” Jelas Nadin dengan isak tangis yang makin keras.

“Aku bakal nunggu sampe Amara lupain aku dan dia jatuh cinta sama cowok lain. Biar kita bisa bersama lagi Nad.”

“Apa kita bakal kuat? Apa kamu bakal tetap mencintai aku? Kalo Amara gak bisa lupain kamu gimana?”

“Kenapa kamu jadi pesimis Nad! Kita berharap yang terbaik buat kita aja! Ok! Gak ada alasan lain, selamanya aku bakal mencintai kamu Nad!”

Mendengar perbincangan Nadin dan Tegar, Amara mutusin buat pergi dan gak nemuin Nadin. Sepanjang perjalanan menuju rumah, Amara menangis, betapa Nadin menyayanginya, demi dirinya Nadin lebih rela berpisah dengan Tegar. Amara mencoba mengingat perjalanan hidupnya bersama Nadin, sejak mereka berkenalan, Nadin selalu baik dan mengalah pada Amara, selalu mengalah. Dan untuk kali ini,keputusan Amara udah bulat, jika selama ini Nadin yang selalu mengalah, kenapa Amara gak bisa mengalah untuk sahabatnya itu.

Esok hari di sekolah, Amara udah liat sosok Nadin duduk di kursinya dengan senyuman termanisnya. Amara sangat bahagia melihat sahabatnya udah sembuh, tanpa pikir panjang Amara berlari menghambur kearah Nadin dan memeluknya erat.

“Nad, gue suka sama Tegar. Tapi Lo jangan putus sama Tegar gara-gara gue Nad!”

“Gue udah ambil keputusan Ra! Kita gak mungkin mencintai cowok yang sama!”

“Kenapa Nad! Gue mohon, Lo jangan putus sama Tegar! Gue mau Lo bahagia Nad! Gue gak apa-apa!”

“Lo gak bisa maksa Gue Ra, Gue udah gak punya hubungan apa-apa sama Tegar. Kita coba cari cowok lain, cowok yang berbeda!”

“Maafin gue Nad, Gue egois. Gue akan berusaha buat lupain Tegar, demi Lo!”

Mungkin usaha Amara buat lupain Tegar butuh waktu yang lama. Selama Amara belum bisa lupain Tegar, Nadin dan Tegar gak akan bersatu. Kini Amara terang-terangan nunjukin perasaan sukanya sama Tegar pad Nadin, bahkan Nadin kini lebih sering godain Amara. Mereka masih mencintai cowok yang sama.

“Ra, Tegar liatin Lo tuch!” Goda Nadin

“Doi kan cinta mati sama Lo Nad! Tapi hari ini Doi cakep buanget Nad.”

“Siapa tau sekarang Doi naksir Lo Ra.”

“Ntar Lo sakit hati Nad kalo Gue sama Doi jadian.”

“Gue kan pernah ngerasain jadi pacar Doi Ra.”

“Bukannya kita mesti nyari cowok yang beda Nad. Kenapa merhatiin Doi terus?”

“Haha, kita hunting cowok lain yuck!”

“Ayo…hahaha.”

Mereka tertawa bersama di kantin sekolah, kini Amara, Nadin dan Tegar memendam perasaan mereka sendiri-sendiri. Amara berusaha keras melupakan cintanya pada Tegar, sementara Nadin dan Tegar tetap menjaga hati mereka dan menunggu Amara mencintai cowok lain agar mereka bisa bersama lagi.

By : Efih Sudini Afrilya
facebook : fiehsoed@gmail.com
Thanks….

Source:
http://www.gen22.net/2012/05/cerpen-remaja-cinta-itu-sabar.html

Baco Salengkapnyo...